Wednesday, June 1, 2011

Hati-Hati dengan Film My Name is Khan, Mendukung Pluralisme dan Defensive Apologetic

Pluralisme, My Name is Khan, Bl0gnya Blogger, Islam, Teroris, Film
Apakah anda termasuk penggemar film? Kalau ya, berarti anda juga tidak melewatkan kehebohan yang ditimbulkan saat film Bollywood yang satu ini dirilis. Yup, My Name Is Khan. Terlepas dari pro dan kontranya di India, film ini laris manis bak Blackberry (biasanya pake istilah kacang goreng, tapi kayaknya dah kalah laris sama BB) di negeri barat. Kesuksesan ini tentusaja merupakan sebuah hasil dari kolaborasi apik pemain utamanya, serta kepiawaian sang sutradara dalam meramu cerita. Shah Rukh Khan (Rizwan Khan) dan Kajol Devgan (Mandiira), begitu apik berperan dibawah arahan Kahar Johan.
Di Inggris, film yang berkisah tentang perjalanan hidup Rizwan Khan (seorang muslim penderita Sindrom Asperger) dalam menebus kembali cinta Mandiira (seorang wanita Hindu) ini berhasil masuk Box Office. Sebuah prestasi luar biasa bagi sebuah “film asing”. Di Amerika, film ini di klaim sebagai film paling laris yang dibintangi oleh Shah Rukh. Apalagi, setting latar film ini memang di Amerika, tepatnya di San Fransisco.
Setiap orang boleh saja mengatakan bahwa film ini adalah film yang inspiratif, mengharukan, dan penuh pesan moral. Namun, dibalik itu semua, film ini juga membawa nilai-nilai universal yang berbahaya bagi akidah umat Islam. Di dalamnya sarat akan hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Saya coba sampaikan apa yang saya mampu dalam tulisan ini.
Pluralisme
Salah satu nilai berbahaya yang diusung dalam film ini adalah nilai Pluralisme. Nilai yang menganggap semua agama sama benar ini setidaknya digambarkan dalam tiga scene. Pertama, pada saat ibunda dari Rizwan Khan yaitu Razia menerangkan tentang hakikat orang baik dan orang jahat. Dalam scene tersebut, Razia memberikan contoh tentang dua orang, yang satu membawa tongkat (yang kemudian disebut orang jahat) dan orang lain yang membawa permen lollipop (yang kemudian dianggap sebagai orang baik). Razia mengatakan, bahwa orang baik dan orang jahat tidak dilihat dari agama apa yang ia pegang, tapi dilihat dari hal apa yang dia lakukan, hal baik atau hal yang buruk, dan hal ini lah yang membedakan orang yang satu dengan orang yang lain, tidak lebih. Dari sisi “humanisme” maka pernyataan ini tidak bermasalah, namun jika dikaitkan dengan akidah, tentu hal ini berbahaya, karena menyamakan satu agama dengan agama yang lain, yang jelas-jelas berbeda. Kedua, pernikahan Rizwan Khan dengan Mandiira yang notabene adalah seorang wanita Hindu. Pada saat sang adik, Zakir menentang pernikahan itu, Rizwan mengatakan bahwa perbedaan seseorang hanyalah baik dan buruk (sebagaimana yang dikatakan oleh ibunya), bukan muslim ataupun hindu. Dan, pernikahan itupun (dalam ceritanya) tetap dilangsungkan. Ketiga, adalah pada saat Khan singgah di wilayah bagian Georgia, pada saat perjalanannya untuk menemui presiden Amerika. Disana, Khan bertemu dengan Mama Jenny dan Joel, dan kemudian Khan bergabung dengan mereka merayakan hari bagi para pahlawan perang, di dalam Gereja, Khan turut hanyut dalam prosesi tersebut, bahkan ikut bernyanyi bersama. Bukankah hal seperti ini haram dilakukan?
Di dalam Islam, memandang semua agama sama benar, sehingga kebenaran sebuah agama menjadi relatif, bertentangan dengan berbagai dalil, baik dalam al Qur’an maupun sunnah Rasul. Beberapa dalil al Qur’an yang menyatakan tentang keharaman isme ini adalah Surah 'Ali Imran ayat 19 dan ayat 85. Sedangkan hadits yang bertentangan dengan paham ini adalah sabda rasulullah: ”Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorangpun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni Neraka.” (HR Muslim).

Defensive Apologetic
Bercerita tentang keadaan muslim Amerika pasca peristiwa 11 September, film ini seolah ingin memberikan sebuah pernyataan tegas bahwa Islam bukanlah sebuah agama teror. Misi ini juga yang dibawa oleh Rizwan, ketika ingin menemui presiden, ia ingin mengatakan, “my name is Khan, and i’m not a terrorist”. Sebuah kalimat yang sangat sejuk, dan menjadi pelipur lara akibat stigma teroris yang terlanjur melekat dengan Islam. Namun, saya melihat bahwa misi film ini telah “gagal”. Pembelaan yang diberikan malah cenderung menyudutkan Islam, atau dalam bahasa kerennya adalah defensive apologetic. Hal ini cukup ditegaskan melalui sebuah scene, dimana saat itu Rizwan Khan bertemu dengan Dr. Rehman.
Dalam adegan tersebut, diceritakan bahwa Dr. Rehman sedang berdiskusi dengan murid-muridnya tentang keadaan saudara-saudara muslim di belahan dunia lain. Tentang pembantaian muslim Palestina oleh tentara Israel, juga tentang orang-orang Hindu yang membantai muslim di India. Pada saat Dr. Rehman menggelorakan semangat juang murid-muridnya dan menantang mereka untuk berkorban demi saudara-saudaranya di negeri lain, Khan menyela dan mengatakan bahwa Dr. Rehman telah berbohong. Pada saat ditanya tentang letak kebohongan dan apakah salah apa yang telah dilakukan oleh Nabi Ismail pada saat peristiwa kurban, Khan berkata bahwa hakikat dari peristiwa kurban adalah cinta kasih. Lagi-lagi, hal ini dia dapatkan dari sang ibu, yang memang menjadi orang yang paling berpengaruh dalam hidup Khan. Dalam kamus Khan, tidak ada kekerasan yang diajarkan oleh Islam, sehingga kita tidak harus mengadakan perlawanan karena itu tidak sesuai dengan semangat cinta kasih yang dibawa oleh Islam. dan yang lebih mengejutkan, Khan melaporkan Dr. Rehman kepada FBI dan mengatakan bahwa beliau adalah seorang teroris.
Membela diri, dengan menolak sesuatu yang memang kita harus lakukan. Inilah inti dari defensive apologetic. My Name Is Khan berusaha mengatakan bahwa Islam agama damai, tapi dengan “tidak mengakui” jihad sebagai sebuah tuntunan syariat. Artinya, film ini telah mengkebiri Islam dan mengamputasi syariat agar sesuai dengan apa yang orang lain inginkan. Terorisme jelas bertentangan dengan Islam, namun tidak mengakui jihad (yang berarti perang) sebagai salah satu bagian dari Syariat Islam adalah sebuah kemungkaran.
Dari sisi film, saya mengakui bahwa film ini adalah sebuah film yang bagus, sayang untuk dilewatkan, apalagi film ini “keluar” dari frame film India, dengan tidak adanya adegan tentang pemain yang menari dan menyanyi. Namun dari sisi nilai yang dapat diambil, maka saya berpesan lebih baik anda mempertebal pemahaman anda tentang Islam, sebelum menontonnya. Jangan sampai anda mengatakan bahwa film ini bagus dan menganggap benar apa yang diceritakan. Apalagi anda seorang JOKAM ??? Selalu dengar Nasehat ! WASPADALAH . . . WASPADALAH !

17 komentar:

vieky said...

Subhanallah..sebuah analisa yang sangat mencerahkan. Jazakallah....

chito sanjaya said...

hmmmm.... film ini bagus,se ga nya nilai positifnya banyak dan bisa di konsumsi buat yang muslim atau non muslim,saya kurang sependapat dengan artikel ini ....ya mungkin hanya pemikiran pribadi saja, ini film tujuannya kan bukan dakwah ya wajar jika bersifat "netral", bukan masalah agama yang saya risaukan,sebenernya yg jadi pertanyaan tu..ini tuh diangkat dari kisah "real" apa cuma karangan belaka?apa obama ketemu rizvan khan beneran ato ga...

Anonymous said...

omong doang

Anonymous said...

Benar sekali bahawa Islam tidak boleh disamakan dengan agama2 lain.Pluralisme,tolenrasi yang ketelaluan serta apologetik akan merosakkan akidah seorang muslim yang sejati

BahasaCinta said...

menurut saya ,,semua hal bila kita memandangnya dari sisi keburukan maka keburukanlah yang akan kita dapat, termasuk juga di film ini . mari lah kita petik baiknya dan tinggalkan yang buruknya.

Anonymous said...

سُبْحَانَ اللّه..
saya setuju sekali... ini cukup mencerahkan, agar kita tidak menelan mentah isi sebuah film...

ada juga film bollywood yg menghina islam, dan sering diputar diindonesia... menurut saya film "fanaa" tidak sesuai islam yg sesungguhnya...

Karina violet said...

Penjelasan yang sangat cerdas dan tepat... Di zaman sekarang yang begitu besar sumber fitnah kita memang harus pintar2 menelan isi cerita dan pesan dr sebuah film..apalagi sekarang indonesia semakin banyak orang yang bersikap permisif thd sesuatu hal yang buruk... Lanjutkan terus dlm membahas dan meriview isi cerita film...

Fikri Elraton said...

Semua itu tergantung pada keyakinan anda dan niat..
Dan juga pandangan anda..

Anonymous said...

ambil positif nya aja ,,, :)

Unknown said...

Coba liat dari 2 sisi aja :-) .. Sebab perang terjadi setelah jalan dskusi tak lagi berjalan damai .. Apa yang kita anggap benar itulah yg kita percayai

Unknown said...

Ini komen kok kyknya pluralisme gak boleh ya.. ya mending hidup dihutan aja. Islam itu indah, jgn kaku, mari kita hidup berdampingan dgn orang lain apapun agamanya, selama dia baik why not!!!

suka-suka said...

simpel aja sih, ambiil nilai positifnya aja, gampang khan??

Pecinta Film said...

Yang nulis bego ato ga paham tentang kata2 di Film ini dan sok ngerti agama...
Kalo emang paham n ngerti
Coba sebutin kapan pemeran utama ga dukung jihad?
Yang Rizwan ga setuju itu dengan kata "nabi Ibrahim rela mengorbankan ananya sendiri...sekarang giliran kita."
Lu orang ga paham agama....
Jihad itu bukan cuma perang bro...
Lu mati waktu cari makan buat anak bini lo juga jihad.
Ato kalo cewek meninggal waktu beranak juga jihad.
Jangan suka jd propokator kalo ga ngerti apa2.
Bacot aja yg lo gedein...ilmu n iman dong yg mesti gede.
Kalo ga ngerti ya mending diem aja coy
Lu baca Al-Quran boleh kok orang muslim nikah ama beda agama asal ahli kitab dan niatnya bukan buat zina.
Kalo masih bego makanya belajar tong...
Pikir dulu baru nulis jangan kebalik...

perdana jaka said...

Maaf.. saya tidak punya masalah dengan pluralisme... Untuk apa menjadi muslim tapi biadab... Saya muslim tapi saya beradab... Biarkan orang memeluk agamanya sendiri... Asal jangan senggol agama saya... Islamfobia justru adalah bentuk dari anti pluralisme.. menganggap islam itu keji... Kesalahpahaman yg semakin parah khususnya di amerika semenjak tragedi 9/11..bila anda menjadi muslim amerika yang diperlakukan tidak adil krena islamofobia apa yang akan ada lakukan? Ap yg anda perjuangkan? Pastinya anda ingin mereka tau bahwa islam tidak begitu.. mana mungkin anda diam saja dihina apalagi dibenci orang lalu dianiaya... Dengan kata lain yg diperjuangkan itu adalah pluralisme...

Garpil said...

Anda mungkin terlalu baper

Unknown said...

"Lu baca Al-Quran boleh kok orang muslim nikah ama beda agama asal ahli kitab dan niatnya bukan buat zina" jangan asal bacot jg loe. Mana bukti Ayat Al Qur'an atau Hadits yg membolehkan nikah orang muslim/muslimah nikah dengan non Islam..Belajar yg benar tentang Islam..

Anonymous said...

Saya setuju sama mas pecinta film, kalau soal pluralisme saya setuju, tapi untuk poin ke 2 saya kurang setuju. Menolong muslim yang ditindas di negara lain bukan wajib harus berperang, ini 2017. Belajar tinggi jadi presiden trus bikin pidato pengecaman atas penyerangan muslim, komplain ke pbb, dll. Atw kerja jadi org kaya trus sumbangin ke mereka. Apa jihad dengan membunuh?