Monday, July 25, 2011

Semua Mengira, Itu Ulah Kelompok Islam

OSLO, KOMPAS.com — Buntut serangan kembar yang menewaskan 93 orang di Norwegia, Jumat lalu, sangat mencemaskan komunitas Muslim di Olso, ibu kota negara itu, pada awalnya.
Kantor berita AFP, Senin, melaporkan, komunitas Muslim di kota itu merasa jadi sasaran kecurigaan karena pada awalnya serangan itu dikhawatirkan telah dilakukan militan Islam.
Di jalan-jalan kota Oslo pada Minggu, banyak orang Muslim mengatakan, sesaat setelah ledakan bom mobil itu, mereka takut tuduhan diarahkan kepada mereka. "Pada Jumat, setelah ledakan, saya tidak pergi kerja, saya tinggal di rumah saja," kata Muhammad Ali Farah, seorang sopir taksi. "Saya takut, seperti semua sopir taksi yang 99,7 persen imigran," kata pria 30 tahun yang berasal dari ibu kota Somalia, Mogadishu, itu.
"Semua orang berpikir itu adalah (aksi) kelompok Islam. Bos saya orang Pakistan, dia mengerti, dia tahu masalahnya. Saya tidak kembali bekerja sampai Sabtu," kata Farah.
Namir Atif (30) berkata, "Saya merasa sebagai orang Norwegia, saya lahir di sini, tetapi saya keturunan Maroko. Memang benar bahwa semua orang langsung berpikir itu adalah serangan kelompok Islam, mereka menuding kami. Ketika Menteri Kehakiman Knut Storberget memberi tahu wartawan bahwa tersangka seorang asli Norwegia, dia tampak menyesal bahwa itu bukan orang asing," kata Atif.
Dalam sebuah laporan yang diumumkan pemerintah awal tahun ini, pihak keamanan Norwegia menyatakan kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan oleh kelompok Islam di negara itu, tetapi tidak mempertimbangkan ekstrim kanan sebagai "ancaman serius". Beberapa jam setelah serangan pada Jumat itu, pihak berwenang mengatakan, mereka sedang mempertimbangkan semua skenario yang mungkin, termasuk serangan oleh militan Islam.
Namun, tersangka pelaku serangan pada Jumat itu adalah Anders Behring Breivik (32). Ia asli Norwegia, seorang "fundamentalis Kristen" dengan kecenderungan ultrakanan. Aksi Breivik telah menewaskan 93 orang, yaitu 7 orang tewas dalam ledakan bom mobil di luar gedung pemerintah di pusat kota Oslo dan 86 orang lagi tewas dalam penembakan massal di Pulau Utoeya, 40 kilometer dari Oslo. Di pulau itu tengah diadakan pertemuan pemuda Partai Buruh.
Naima, seorang perempuan Maroko yang tidak mau memberi tahu nama lengkapnya, mengatakan, dia tiba di Oslo tiga bulan lalu. Dia bilang, dia merasa senang di sana, tetapi mengaku khawatir juga segera setelah ledakan bom itu, yang terjadi tidak jauh dari tempat tinggalnya. Naima mengatakan, dia menyadari bahwa komunitas Muslim di sekitarnya akan dicurigai.
"Mereka menangkap seorang Maroko tanpa alasan jelas beberapa jam setelah kejadian," kata seorang pemuda Tunisia yang tidak menyebutkan namanya. Dia mengatakan, dirinya tinggal secara ilegal di negara itu. Duduk di teras sebuah kafe dengan beberapa orang lain, dia merasa terganggu bahwa komunitas Muslim selalu bertanggung jawab "saat bom meledak".
Seorang pria Palestina menambahkan, "Norwegia negara saya, umat Islam juga sedih dengan tragedi ini. Saya merasa sedih bahwa orang berpikir, (hanya) seorang Muslim yang mampu melakukan hal ini."

src : kompas.com

0 komentar: